Kamis, 18 Agustus 2011

SCURVYGRASS

PENDAHULUAN


Penggunaan tanaman-tanaman obat untuk menyembuhkan penyakit adalah hal umum dalam masyarakat non-industri. Beberapa tradisi muncul dan mendominasi pelaksanaan pengobatan dengan tanaman obat di awal abad ke 19, antara lain seperti: (1) Sistem pengobatan herbal berdasarkan sumber dari Yunani dan Romawi, (2) Sistem pengobatan Ayurvedic dari India, (3) Pengobatan herbal Cina (Herbologi Cina), (4) Pengobatan Unani-Tibb, dan (5) Tanaman obat dari Shamanic, dan lain sebagainya.

Cochlearia sp. atau yang lebih dikenal dengan nama Scurvy-grass adalah salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif obat-obatan mujarab selain obat-obatan kimia pada jaman dahulu. Tanaman ini biasanya umum ditemukan tumbuh di wilayah temperatur artik (meskipun juga sering ditemukan di wilayah lain), menempel pada batu karang di puncak tebing, lumpur, tanah berpasir, atau daerah dekat sumber air, baik air tawar maupun air asin. Tanaman ini juga sering ditemukan tumbuh di bawah permukaan air, hal ini karena tanaman tersebut tumbuh di karang tepi pantai dan terkena pasang naik. Meskipun demikian tanaman ini dapat bertahan dan toleransi terhadap air asinnya cukup tinggi, asalkan masih mendapatkan cukup sinar matahari dan tidak terlalu lama terendam. Karena sering ditemukan di tepi pantai atau daerah yang dekat dengan sungai, tanaman ini menjadi salah satu obat gratis yang sering dicari oleh para pelaut.

Laporan penelitian perbanyakan tanaman Scurvy-grass ini bertujuan untuk mengetahui metode mana yang lebih sesuai untuk digunakan dalam perbanyakan tanaman Scurvy-grass, pengaruh air, suhu udara, dan cahaya terhadap pertumbuhan biji Scurvy-grass. Cakupan laporan ini juga termasuk taksonomi dan morfologi singkat tanaman Scurvy-grass beserta manfaatnya Scurvy-grass sebagai salah satu tanaman obat yang sudah umum dikenal pada zaman dahulu. Dari laporan ini akan diketahui manfaat, deskripsi umum, dan metode perbanyakan yang lebih efektif untuk tanaman Scurvy-grass.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian kelas herbologi dilakukan selama 3 minggu melalui pengujian di rumah kaca, sehingga karena keterbatasan waktu, maka digunakan zat perangsang tumbuh agar biji Scurvy-grass cepat berkecambah dan penelitian dapat dilaksanakan. Ada dua cara yang digunakan dalam penelitian ini, pertama menggunakan kapas lembab dan kedua menggunakan perangsang akar. Bahan yang dibutuhkan adalah biji Scurvy-grass, wadah (tray), kapas, pasir steril dan arang halus, segenggam biji Annona muricata, beberapa butir Allium sativum, lumpang dan alu kecil. Hasil penelitian akan di catat per minggu pengamatan.

Larutan fungisida organik dibuat dari ekstraksi biji Annona muricata, sedangkan zat perangsang tumbuh organik dibuat dari Allium sativum yang dihaluskan untuk selanjutnya dioles pada 5 butir biji Scurvy-grass yang akan ditanam pada media tanam pasir dan arang. Untuk biji Scurvy-grass yang diletakkan pada kapas lembab, tidak diberikan zat perangsang akar.

HASIL PENELITIAN

Minggu 1
Pada awal penelitian dilakukan persiapan media tanam, pembuatan fungisida organik, dan pemilihan biji Scurvy-grass yang akan ditanam. Biji Scurvy-grass dimasukkan ke dalam air dan dipilih yang tenggelam, semua biji yang telah disediakan dalam kondisi baik dan bisa digunakan. Media tanam yang pertama terdiri dari campuran pasir steril dan arang sekam yang sudah di rendam dalam larutan fungisida untuk mencegah timbulnya cendawan dengan perbandingan 1:1 lalu dimasukkan kedalam tray (wadah seperti tempat telur dengan banyak lekukan untuk memasukkan media tanam), sedangkan media tanam kedua adalah kapas yang diberi sedikit air dan juga diletakkan di dalam tray.

5 butir biji Scurvy-grass diletakkan pada masing-masing tray dengan kapas lembab, dan 5 butir biji Scurvy-grass yang lain dibenamkan kedalam media tanam sedalam satu ruas jari telunjuk. Kemudian tray tersebut di letakkan di tempat yang agak terlindung dan mempunyai suhu agak rendah. Belum nampak adanya perkembangan pada minggu pertama di kedua jenis media tanam.

Minggu 2
Pada awal minggu, biji pada media tanam kapas lembab mulai agak membesar dan berwarna lebih muda dari sebelumnya, sedangkan pada media pasir dan arang belum tampak adanya perkembangan. Pada akhir minggu, mulai tampak akar berwarna putih halus keluar dari 3 dari 5 butir biji yang diletakkan pada media tanam kapas, sedangkan pada media tanam pasir dan arang belum menampakkan perkembangan.

Minggu 3
2 kecambah (plantula) mulai muncul dari media pasir dan arang, sedangkan sudah terdapat 4 kecambah pada media kapas lembab. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa Scurvy-grass tergolong perkecambahan di atas tanah (epigaeis). Tanaman yang sudah mempunyai akar agak banyak dipindahkan ke dalam media tanam lain dengan wadah lebih besar.

DISKUSI

Para pelaut jaman dahulu yang telah melakukan perjalanan panjang melintasi samudra biasanya tidak mendapatkan cukup asupan vitamin C, yang biasanya tersedia di dalam sayuran dan buah-buahan segar, karena makanan yang umum mereka makan selama perjalanan adalah hasil laut yang sangat sedikit mengandung vitamin C, dan membuat mereka kebanyakan menderita scurvy. Scurvy, yang berasal dari bahasa latin scorbutus, adalah suatu keadaan akibat defisiensi atau kekurangan asam askorbat (vitamin C) dalam diet atau makanan, ditandai oleh kelemahan, anemia, gusi seperti spons, kencenderungan pendarahan mukokutan (membran mukosa dan kulit) dan indurasi otot-otot tungkai dan betis. Sea scurvy atau yang disebut sebagai skorbut sejati inilah yang paling sering terjadi pada para pelaut.

Sebagai tanaman obat, Scurvy-grass mengandung glukosilinat, minyak folatil, tannin, vitamin C, dan mineral. Vitamin C yang terkandung dalam daun tanaman inilah yang sering menolong para pelaut tersebut. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa tanaman ini dapat bermanfaat sebagai antiscorbutic, aperient, disinfectant, diuretic dan stimulant. Jika dioleskan, lumatan daun tanaman ini juga berguna untuk menyembuhkan ulcer (latin ulcus; Yunani helkosis), yaitu kerusakan lokal, atau eskavasi permukaan organ atau jaringan, yang disebabkan oleh terkelupasnya jaringan nekrotik radang (biasa disebut borok, koreng, luka bernanah, atau apalah, hohoho).

Sari minyak tanaman ini juga berguna dalam kasus paralysis (kehilangan atau gangguan fungsi motorik akibat lesi pada mekanisme saraf atau otot, secara analogi, disebut gangguan fungsi sensorik) dan rheumatik. Ale yang terbuat dari Scurvy-grass adalah minuman tonik yang terkenal pada musim semi. Dibuat dari 2 ons daun Scurvy-grass yang dimasukkan ke dalam sepanci air mendidih hingga menjadi sebanyak satu gelas anggur penuh. Tanaman ini juga berguna untuk mengobati mimisan, gonorrhea, sebagai pembersih darah atau pemurni, sakit perut, dan gout (radang sendi herediter yang ditandai oleh kelebihan asam urat dalam darah).

Tanaman ini biasanya lebih baik dimakan atau diolah saat masih segar, meskipun masih sedikit berkhasiat dalam bentuk kering. Scurvy-grass biasanya diambil pada waktu antara akhir musim semi hingga awal musim panas, lalu dikeringkan untuk disimpan. Sumber-sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwa tanaman ini terasa agak pedas dan sangat tidak enak jika dimakan langsung, dan biasanya dimakan bersamaan dengan saus dan salad agar lebih enak (slurp!).

Taksonomi
Seperti halnya tanaman lain, Scurvy-grass juga diberi nama latin untuk mempermudah komunikasi. Sistem tata nama berdasarkan Binominal Nimenclatute yang dipelopori oleh Carolus Lineaeus pada tahun 1970-an itu terdiri dari dua kata, yaitu genus dan spesies. Sistem kalsifikasi tanaman Scurvy-grass menurut Lawrence (1959) adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae
Division: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida
Order: Brassicales
Family: Brassicaceae
Genus: Cochlearia
Species:
•   Cochlearia acutangula
•   Cochlearia aestuaria
Scurvy-grass muara
•   Cochlearia alatipes
•   Cochlearia anglica
Scurvy-grass Inggris
•   Cochlearia aragonensis
•   Cochlearia changhuaensis
•   Cochlearia cyclocarpa
– Roundfruit Scurvy-grass
•   Cochlearia danica – Danish Scurvy-grass
•   Cochlearia fenestrata Scurvy-grass Artik
•   Cochlearia formosana
•   Cochlearia fumarioides
•   Cochlearia furcatopilosa
•   Cochlearia glastifolia
•   Cochlearia groenlandica
Scurvy-grass Greenland
•   Cochlearia henryi
•   Cochlearia hui
•   Cochlearia lichuanensis
•   Cochlearia longistyla
•   Cochlearia megalosperma
•   Cochlearia micacea
•   Cochlearia microcarpa
•   Cochlearia oblongifolia
Scurvy-grass Asia timur
•   Cochlearia officinalis Scurvy-grass umum (termasuk C. excelsa, C. pyrenaica, C. scotica)
•   Cochlearia paradoxa
•   Cochlearia rivulorum
•   Cochlearia rupicola
•   Cochlearia sessilifolia
Scurvy-grass berdaun sessile atau Scurvy-grass Alaska
•   Cochlearia sinuata
•   Cochlearia tatrae
•   Cochlearia tridactylites
Scurvy-grass tiga jari
•   Cochlearia warburgii
Terdapat sekitar tiga puluh jenis Scurvy-grass yang disetujui oleh para ahli botani, dan seperti yang terlihat di atas, beberapa diantaranya ditetapkan sebagai subspesies dari Cochlearia officinalis, yaitu salah satu spesies Scurvy-grass yang paling umum ditemui dan digunakan, serta sering dikenal dengan nama lain, yaitu Scrubby Grass, Spoonwort, Carnson, Skeewort, Erba a Cucchiaino, Coclearia, Skeawyrt.

Morfologi
Secara umum tanaman ini merupakan tanaman sukulen (mengandung banyak air), perennial, dan termasuk dalam kelompok tumbuhan biji tertutup (angiosperma). Tanaman ini berbentuk perdu rendah setinggi kurang lebih 5 – 20 cm, dan maksimal 50 cm, berbau tidak sedap, agak pahit, panas, dan terasa asam, agak pedas ketika masih segar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar